Kelompok :
Dadan Hernawan
Ade Imas
Desli N
Gusti Ayu E.H
Koko
Maher
Meraya Putri Daeli
Setyo Wibowo
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS RESPATI INDONESIA
JAKARTA
2013
Kata pengantar
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan dalam proses perkuliahan, dan penulisan makalah yang berjudul “SILIKOSIS”, yang merupakan suatu kajian yang disusun untuk melengkapi tugas Individu dalam mata kuliah EPIDEMIOLOGI K3 di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Respati Indonesia.
Dalam penyusunan makalah ini penulis mengharapkan saran, masukkan bahkan kritik yang membangun untuk makalah ini, sehingga bisa digunakan sebagai referensi dalam mata kuliah ini.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada dosen pengajar mata kuliah EPIDEMIOLOGI K3 yang telah membantu dan memotivasi penulis dalam pembuatan makalah ini. Terima kasih juga untuk semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini sehingga dapat selesai seperti yang diharapkan.
Penulis
Bab I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kemajuan dalam bidang industri sampai sekarang telah menghasilkan sekitar 70.000 jenis bahan berupa logam, kimia, pelarut, plastik, karet, pestisida, gas, dan sebagainya yang digunakan secara umum dalam kehidupan sehari-hari dan memberikan kenyaman dan kemudahan bagi penduduk di seluruh dunia. Namun di lain pihak, bahan-bahan tersebut menimbulkan berbagai dampak seperti cedera dan penyakit. Cedera akibat kerja dapat bersifat ergonomik, ortopedik, fisik, mengenai mata, telinga dan lainnya. Penyakit-penyakit akibat pajanan di lingkungan kerja dapat berupa toksik, infeksi, kanker, gangguan hati, saraf, alat reproduksi, kardiovaskular, kulit dan saluran napas.
Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja. Dengan demikian penyakit akibat kerja merupakan penyakit yang artificial atau man mad disease. World Health Organization (WHO) membedakan empat kategori penyakit akibat kerja: penyakit yang hanya disebabkan oleh pekerjaan, seperti Pneumokoniosis, penyakit yang salah satunya penyebabnya ialah pekerjaan, seperti carcinoma Bronkhogenik, penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebab diantara faktor-faktor penyebab lainnya seperti Bronchitis kronis, penyakit dimana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang sudah ada sebelumnya seperti Asma.
Faktor penyebab Penyakit Akibat Kerja sangat banyak, tergantung pada bahan yang digunakan dalam proses kerja, lingkungan kerja ataupun cara kerja. Pada umumnya faktor penyebab dapat dikelompokkan dalam 5 golongan antara lain: golongan fisik (suara (bising), radiasi, suhu (panas/dingin), tekanan yang sangat tinggi, vibrasi, penerangan lampu yang kurang baik), golongan kimiawi (bahan kimiawi yang digunakan dalam proses kerja, maupun yang terdapat dalam lingkungan kerja, dapat berbentuk debu, uap, gas, larutan, awan atau kabut), golongan biologis (bakteri, virus atau jamur), golongan fisiologis (biasanya disebabkan oleh penataan tempat kerja dan cara kerja), golongan psikososial (lingkungan kerja yang mengakibatkan stres).
Berbagai penyakit paru saat ini merupakan masalah kesehatan masyarakat. Penyakit infeksi, tuberkulosis maupun non tuberkulosis, asma dan penyakit paru obstruktif menahun, kanker paru dan juga penyakit paru akibat kerja merupakan contoh penyakit-penyakit yang punya dampak luas di masyarakat. Khusus Indonesia, penyakit-penyakit infeksi paru masih menyebabkan morbiditas, demikian pula dengan silikosis, asma bronkial dan penyakit paru obstruktif. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga 1980 menunjukkan bahwa hampir sepertiga (28,4%) kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit paru. Pada survei berikutnya di tahun 1986 angka ini ternyata meningkat menjadi 30,5%, sehingga berdasarkan survei kesehatan rumah tangga nasional terbaru ini menyatakan bahwa satu di antara tiga kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit paru.
Ratusan juta tenaga kerja di seluruh dunia saat ini bekerja pada kondisi yang tidak aman dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Menurut International Labor Organization(ILO), setiap hari terjadi 1.1 juta kematian yang disebakan oleh karena penyakit atau kecelakaan akibat hubungan pekerjaan. Dari data ILO tahun 1999, penyebab kematian yang berhubungan dengan pekerjaan paling banyak disebabkan oleh kanker 34%. Sisanya terdapat kecelakaan sebanyak 25 %, penyakit saluran pernapasaan 21%, dan penyakit kardiovaskuler 15%. Dari data-data tersebut dapat diketahui bahwa penyakit saluran pernapasaan menempati peringkat ketiga.
Faktor penyebab Penyakit Akibat Kerja sangat banyak, tergantung pada bahan yang digunakan dalam proses kerja, lingkungan kerja ataupun cara kerja. Pada umumnya faktor penyebab dapat dikelompokkan dalam 5 golongan antara lain: golongan fisik (suara (bising), radiasi, suhu (panas/dingin), tekanan yang sangat tinggi, vibrasi, penerangan lampu yang kurang baik), golongan kimiawi (bahan kimiawi yang digunakan dalam proses kerja, maupun yang terdapat dalam lingkungan kerja, dapat berbentuk debu, uap, gas, larutan, awan atau kabut), golongan biologis (bakteri, virus atau jamur), golongan fisiologis (biasanya disebabkan oleh penataan tempat kerja dan cara kerja), golongan psikososial (lingkungan kerja yang mengakibatkan stres).
Berbagai penyakit paru saat ini merupakan masalah kesehatan masyarakat. Penyakit infeksi, tuberkulosis maupun non tuberkulosis, asma dan penyakit paru obstruktif menahun, kanker paru dan juga penyakit paru akibat kerja merupakan contoh penyakit-penyakit yang punya dampak luas di masyarakat. Khusus Indonesia, penyakit-penyakit infeksi paru masih menyebabkan morbiditas, demikian pula dengan silikosis, asma bronkial dan penyakit paru obstruktif. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga 1980 menunjukkan bahwa hampir sepertiga (28,4%) kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit paru. Pada survei berikutnya di tahun 1986 angka ini ternyata meningkat menjadi 30,5%, sehingga berdasarkan survei kesehatan rumah tangga nasional terbaru ini menyatakan bahwa satu di antara tiga kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit paru.
Ratusan juta tenaga kerja di seluruh dunia saat ini bekerja pada kondisi yang tidak aman dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Menurut International Labor Organization(ILO), setiap hari terjadi 1.1 juta kematian yang disebakan oleh karena penyakit atau kecelakaan akibat hubungan pekerjaan. Dari data ILO tahun 1999, penyebab kematian yang berhubungan dengan pekerjaan paling banyak disebabkan oleh kanker 34%. Sisanya terdapat kecelakaan sebanyak 25 %, penyakit saluran pernapasaan 21%, dan penyakit kardiovaskuler 15%. Dari data-data tersebut dapat diketahui bahwa penyakit saluran pernapasaan menempati peringkat ketiga.
Sebagai tenaga kesehatan, termasuk perawat harus melakukan pengkajian terhadap pasien dan apakah ada hubungan antara penyakit yang diderita pasien dengan pekerjaan mereka. Sehingga dapat ditentukan perencanaan serta intervensi yang tepat untuk pasien agar hasil yang diperoleh dapat maksimal dan benar-benar bermanfaat untuk pasien.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN
Silikosis (Silicosis) adalah suatu penyakit saluran pernafasan akibat menghirup debu silika, yang menyebabkan peradangan dan pembentukan jaringan parut pada paru-paru.
Silikon dioksida (silika, SiO2) merupakan senyawa yang umum ditemui dalam kehidupan sehari-hari dan banyak digunakan sebagai bahan baku industri elektronik. Silikon dioksida kristalin dapat ditemukan dalam berbagai bentuk yaitu sebagai quarsa, kristobalit dan tridimit. Pasir di pantai juga banyak mengandung silika. Silikon dioksida terbentuk melalui ikatan kovalen yang kuat, serta memiliki struktur lokal yang jelas: empat atom oksigen terikat pada posisi sudut tetrahedral di sekitar atom pusat yaitu atom silikon.
Terdapat 3 jenis silikosis:
1. Silikosis kronis simplek, terjadi akibat pemaparan sejumlah kecil debu silika dalam jangka panjang (lebih dari 20 tahun).
Nodul-nodul peradangan kronis dan jaringan parut akibat silika terbentuk di paru-paru dan kelenjar getah bening dada.
Nodul-nodul peradangan kronis dan jaringan parut akibat silika terbentuk di paru-paru dan kelenjar getah bening dada.
2. Silikosis akselerata, terjadi setelah terpapar oleh sejumlah silika yang lebih banyak selama waktu yang lebih pendek (4-8 tahun).
Peradangan, pembentukan jaringan parut dan gejala-gejalanya terjadi lebih cepat.
Peradangan, pembentukan jaringan parut dan gejala-gejalanya terjadi lebih cepat.
3. Silikosis akut, terjadi akibat pemaparan silikosis dalam jumlah yang sangat besar, dalam waktu yang lebih pendek.
Paru-paru sangat meradang dan terisi oleh cairan, sehingga timbul sesak nafas yang hebat dan kadar oksigen darah yang rendah.
Paru-paru sangat meradang dan terisi oleh cairan, sehingga timbul sesak nafas yang hebat dan kadar oksigen darah yang rendah.
Pada silikosis simplek dan akselerata bisa terjadi fibrosif masif progresif. Fibrosis ini terjadi akibat pembentukan jaringan parut dan menyebabkan kerusakan pada struktur paru yang normal.
Pada berbagai jenis pekerjaan yang berhubungan dengan silika penyakit ini dapat terjadi, pada:
1. Pekerja tambang logam dan batubara
2. Penggali terowongan untuk membuat jalan
3. Pemotongan batu seperti untuk patung, nisan
4. Pembuat keramik dan batubara
5. Penuangan besi dan baja
6. Industri yang memakai silika sebagai bahan misalnya pabrik amplas dan gelas.
7. Pembuat gigi enamel
8. Pabrik semen (Yunus, 1997).
1. Pekerja tambang logam dan batubara
2. Penggali terowongan untuk membuat jalan
3. Pemotongan batu seperti untuk patung, nisan
4. Pembuat keramik dan batubara
5. Penuangan besi dan baja
6. Industri yang memakai silika sebagai bahan misalnya pabrik amplas dan gelas.
7. Pembuat gigi enamel
8. Pabrik semen (Yunus, 1997).
2.2 RIWAYAT PENYAKIT
Host Agent Environment
- Host : usia produktif, pekerja dalam lingkungan berisiko yang tidak menggunakan masker, dan penduduk yang tinggal dikawasan industri.
- Agent non living agent : kimia àkristalin silicon dioksida
- Environment : terkena pajanan yang terus menerus dari kawasan industri - semen, -batu bara, keramik, dan industri yang menggunakan silica sebagai bahan untuk proses industrinya.
Riwayat Alamiah
* Periode prepathogenesis adalah interaksi antara host, agent, dan environment.
Pekerja dalam lingkungan yang berisiko terpajan terus menerus dari kawasan industri semen, batu bara, keramik, dan industri lain yang menggunakan silica sebagai bahan baku merupakan factor predisposing atau factor pemungkin untuk terjadinya penyakit silicosis. Para pekerja tidak langsung terkena silicosis, karena silicosis terjadi dalam waktu yang lama dan akumulatif namun factor risiko telah ada.
*Periode pathogenesis terjadi mulai saat terjadinya kelainan atau gangguan pada tubuh akibat interaksi antara stimulus penyakit dengan manusia sampai dengan terjadinya kesembuhan, kematian, kelainan yang menetap atau cacat.
- Fase subklinis : serbuk silika masuk ke paru-paru dan sel pembersih (misalnya makrofag) akan mencernanya. Enzim yang dihasilkan oleh sel pembersih menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada paru-paru.
- Fase klinis : Gejala tersebut disertai batuk tidak berdahak, sulit bernapas dan mudah letih.
Usaha untuk menegakkan diagnosis silikosis secara dini sangat penting, oleh karena penyakit dapat terus berlanjut meskipun paparan telah dihindari. Pada penderita silikosis insidens tuberkulosis lebih tinggi dari populasi umum.
* Periode prepathogenesis adalah interaksi antara host, agent, dan environment.
Pekerja dalam lingkungan yang berisiko terpajan terus menerus dari kawasan industri semen, batu bara, keramik, dan industri lain yang menggunakan silica sebagai bahan baku merupakan factor predisposing atau factor pemungkin untuk terjadinya penyakit silicosis. Para pekerja tidak langsung terkena silicosis, karena silicosis terjadi dalam waktu yang lama dan akumulatif namun factor risiko telah ada.
*Periode pathogenesis terjadi mulai saat terjadinya kelainan atau gangguan pada tubuh akibat interaksi antara stimulus penyakit dengan manusia sampai dengan terjadinya kesembuhan, kematian, kelainan yang menetap atau cacat.
- Fase subklinis : serbuk silika masuk ke paru-paru dan sel pembersih (misalnya makrofag) akan mencernanya. Enzim yang dihasilkan oleh sel pembersih menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada paru-paru.
- Fase klinis : Gejala tersebut disertai batuk tidak berdahak, sulit bernapas dan mudah letih.
Usaha untuk menegakkan diagnosis silikosis secara dini sangat penting, oleh karena penyakit dapat terus berlanjut meskipun paparan telah dihindari. Pada penderita silikosis insidens tuberkulosis lebih tinggi dari populasi umum.
2.3 PENYEBAB
Silikosis terjadi pada orang-orang yang telah menghirup debu silika selama beberapa tahun. Silika adalah unsur utama dari pasir, sehingga pemaparan biasanya terjadi pada :
1. Buruh tambang logam
2. Pekerja pemotong batu dan granit
3. Pekerja pengecoran logam
4. Pembuat tembikar.
Biasanya gejala timbul setelah pemaparan selama 20-30 tahun. Tetapi pada peledakan pasir, pembuatan terowogan dan pembuatan alat pengampelas sabun, dimana kadar silika yang dihasilkan sangat tinggi, gejala dapat timbul dalam waktu kurang dari 10 tahun .
Bila terhirup, serbuk silika masuk ke paru-paru dan sel pembersih (misalnya makrofag) akan mencernanya. Enzim yang dihasilkan oleh sel pembersih menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada paru-paru.
Pada awalnya, daerah parut ini hanya merupakan bungkahan bulat yang tipis (silikosis noduler simplek). Akhirnya, mereka bergabung menjadi massa yang besar (silikosis konglomerata). Daerah parut ini tidak dapat mengalirkan oksigen ke dalam darah secara normal. Paru-paru menjadi kurang lentur dan penderita mengalami gangguan pernafasan.
Silikosis terjadi pada orang-orang yang telah menghirup debu silika selama beberapa tahun. Silika adalah unsur utama dari pasir, sehingga pemaparan biasanya terjadi pada :
1. Buruh tambang logam
2. Pekerja pemotong batu dan granit
3. Pekerja pengecoran logam
4. Pembuat tembikar.
Biasanya gejala timbul setelah pemaparan selama 20-30 tahun. Tetapi pada peledakan pasir, pembuatan terowogan dan pembuatan alat pengampelas sabun, dimana kadar silika yang dihasilkan sangat tinggi, gejala dapat timbul dalam waktu kurang dari 10 tahun .
Bila terhirup, serbuk silika masuk ke paru-paru dan sel pembersih (misalnya makrofag) akan mencernanya. Enzim yang dihasilkan oleh sel pembersih menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada paru-paru.
Pada awalnya, daerah parut ini hanya merupakan bungkahan bulat yang tipis (silikosis noduler simplek). Akhirnya, mereka bergabung menjadi massa yang besar (silikosis konglomerata). Daerah parut ini tidak dapat mengalirkan oksigen ke dalam darah secara normal. Paru-paru menjadi kurang lentur dan penderita mengalami gangguan pernafasan.
2.4 GEJALA
Penderita silikosis noduler simpel tidak memiliki masalah pernafasan, tetapi mereka bisa menderita batuk berdahak karena saluran pernafasannya mengalami iritasi (bronkitis). Silikosis terakselerasi bisa menyebabkan batuk berdahak dan sesak nafas. Mula-mula sesak nafas hanya terjadi pada saat melakukan aktivitas, tapi akhirnya sesak timbul bahkan pada saat beristirahat. Keluhan pernafasan bisa memburuk dalam waktu 2-5 tahun setelah penderita berhenti bekerja. Kerusakan di paru-paru bisa mengenai jantung dan menyebabkan gagal jantung yang bisa berakibat fatal. Jika terpapar oleh organisme penyebab tuberkulosis (Mycobacterium tuberculosis, penderita silikosis mempunyai resiko 3 kali lebih besar untuk menderita tuberculosis .
Gejala tambahan yang mungkin ditemukan, terutama pada silikosis akut:
1. Demam
2. Batuk
3. Penurunan berat badan
4. Gangguan pernafasan yang berat.
2.5 PEMERIKSAAN SILIKOSIS
Biasanya akan ditanyakan secara terperinci mengenai jenis pekerjaan, hobi dan aktivitas lainnya yang kemungkinan besar merupakan sumber pemaparan silika. Pemeriksaan yang dilakukan:
a. Rontgen dada (terlihat gambaran pola nodul dan jaringan parut)
b. Tes fungsi paru
c. Tes PPD (untuk TBC)
1. Silikosis Akut
a. Pemeriksaan Faal Paru
Kelainan faal paru yang timbul adalah restriksi berat dan hipoksemi disertai penurunan kapasitas difusi.
b. Pemeriksaan Radiologis
Pada foto toraks tampak fibrosis interstisial difus, fibrosis kemuclian berlanjut dan terdapat pada lobus tengah dan bawah membentuk diffuse ground glass appearance mirip edema paru.
2. Silikosis Kronik
a. Pemeriksaan Radiologis
Pada silikosis kronik yang sederhana, foto toraks menunjukkan nodul terutama di lobus atas dan mungkin disertai klasifikasi. Pada bentuk lanjut terthpat masa yang besar yang tampak seperti sayap malaikat (angel's wing). Sering terjadi reaksi pleura pada lesi besar yang padat. Kelenjar hilus biasanya membesar dan membentuk bayangan egg shell calcification.
b. Pemeriksaan Faal Paru
Jika fibrosis masif progresif terjadi, volume paru berkurang dan bronkus mengalami distorsi. Faal paru menunjukkan gangguan restriksi, obstruksi atau campuran. Kapasitasdifusi dan komplians menurun. Timbul gejala sesak napas, biasa disertai batuk dan produksi sputum. Sesak pada awalnya terjadi pada saat aktivitas, kemudian pada waktu istirahat dan akhirya timbul gagal kardiorespirasi.
3. Silikosis Terakselerasi
Pemeriksaan Silikosis Terakselerasi hampir sama dengan Silikosis Kronik.
2.6 PENGOBATAN
Tidak ada pengobatan spesifik dan efektif pada penyakit paru yang disebabkan oleh debu industri. Penyakit biasanya memberikan gejala bila kelainan telah lanjut. Pada silikosis bila diagnosis telah ditegakkan penyakit dapat terus berlanjut menjadi fibrosis masif meskipun paparan dihilangkan. Bila faal paru telah menunjukkan kelainan obstruksi pada bronkitis industri, berarti kelainan telah menjadi ireversibel. Pengobatan umumnya bersifat simptomatis, yaitu mengurangi gejala. Obat lain yang diberikan bersifat suportif (Yunus, 1997).
Untuk mencegah semakin memburuknya penyakit, sangat penting untuk menghilangkan sumber pemaparan. Terapi suportif terdiri dari obat penekan batuk, bronkodilator dan oksigen. Jika terjadi infeksi, bisa diberikan antibiotik. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah :
1. Membatasi pemaparan terhadap silika
2. Berhenti merokok
3. Menjalani tes kulit untuk TBC secara rutin.
Penderita silikosis memiliki resiko tinggi menderita tuberkulosis (TBC), sehingga dianjurkan untuk menjalani tes kulit secara rutin setiap tahun. Silika diduga mempengaruhi sistem kekebalan tubuh terhadap bakteri penyebab TBC. Jika hasilnya positif, diberikan obat anti TBC.
Tidak ada pengobatan spesifik dan efektif pada penyakit paru yang disebabkan oleh debu industri. Penyakit biasanya memberikan gejala bila kelainan telah lanjut. Pada silikosis bila diagnosis telah ditegakkan penyakit dapat terus berlanjut menjadi fibrosis masif meskipun paparan dihilangkan. Bila faal paru telah menunjukkan kelainan obstruksi pada bronkitis industri, berarti kelainan telah menjadi ireversibel. Pengobatan umumnya bersifat simptomatis, yaitu mengurangi gejala. Obat lain yang diberikan bersifat suportif (Yunus, 1997).
Untuk mencegah semakin memburuknya penyakit, sangat penting untuk menghilangkan sumber pemaparan. Terapi suportif terdiri dari obat penekan batuk, bronkodilator dan oksigen. Jika terjadi infeksi, bisa diberikan antibiotik. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah :
1. Membatasi pemaparan terhadap silika
2. Berhenti merokok
3. Menjalani tes kulit untuk TBC secara rutin.
Penderita silikosis memiliki resiko tinggi menderita tuberkulosis (TBC), sehingga dianjurkan untuk menjalani tes kulit secara rutin setiap tahun. Silika diduga mempengaruhi sistem kekebalan tubuh terhadap bakteri penyebab TBC. Jika hasilnya positif, diberikan obat anti TBC.
2.7 Strategi Pengendalian penyakit
Dalam strategi pengendalian penyakit, pengawasan terhadap di lingkungan kerja dapat membantu mencegah terjadinya silikosis. Jika debu tidak dapat dikontrol, (seperti halnya dalam industri peledakan), maka pekerja harus memakai peralatan yang memberikan udara bersih atau sungkup.
Pekerja yang terpapar silika, harus menjalani foto rontgen dada secara rutin. Untuk pekerja peledak pasir setiap 6 bulan dan untuk pekerja lainnya setiap 2-5 tahun, sehingga penyakit ini dapat diketahui secara dini. Jika foto rontgen menunjukkan silikosis, dianjurkan untuk menghindari pemaparan terhadap silika.
Jika seorang pekerja memiliki alergi terhadap debu, gunakanlah masker agar terhindar dari kontak langsung dengan debu dan bawalah selalu obat alergi debu, dan upayakan, kita selalu hidup bersih dan sehat.
2.8 PENCEGAHAN
Tindakan pencegahan merupakan tindakan yang paling penting pada penatalaksanaan penyakit paru akibat debu industri. Berbagai tindakan pencegahan perlu dilakukan untuk mencegah timbulnya penyakit atau mengurangi laju penyakit. Perlu diketahui apakah pada suatu industri atau tempat kerja ada zat-zat yang dapat menimbulkan kelainan pada paru. Kadar debu pada tempat kerja diturunkan serendah mungkin dengan memperbaiki teknik pengolahan bahan, misalnya pemakaian air untuk mengurangi debu yang berterbangan. Bila kadar debu tetap tinggi pekerja diharuskan memakai alat pelindung (Yunus, 1997).
Pengawasan terhadap di lingkungan kerja dapat membantu mencegah terjadinya silikosis. Jika debu tidak dapat dikontrol (seperti halnya dalam industri peledakan), maka pekerja harus memakai peralatan yang memberikan udara bersih atau sungkup. Pekerja yang terpapar silika, harus menjalani foto rontgen dada secara rutin. Untuk pekerja peledak pasir setiap 6 bulan dan untuk pekerja lainnya setiap 2-5 tahun, sehingga penyakit ini dapat diketahui secara dini. Jika foto rontgen menunjukkan silikosis, dianjurkan untuk menghindari pemaparan terhadap silika.
2.9 Peran Keluarga Dalam Upaya Pencegahan Penyakit
Dalam usaha pencegahan penyakit akibat kerja atau silikosis ini, suatu keluarga harus berupaya untuk selalu berperilaku hidup bersih dan sehat, seperti : merawat rumah dan menjaga lingkungan sekitar supaya bersih dari kotoran maupun debu.
Untuk penderita yang alergi terhadap debu dan penderita sedang menjalani terapi pengobatan, peran keluarga disini adalah sebagai pengawas obat – obatan dari si penderita. Keluarga juga berperan dalam upaya peningkatan asupan gizi si paenderita, dengan memberikan makanan yang bergizi dan sehat.
BAB III
Tindakan pencegahan merupakan tindakan yang paling penting pada penatalaksanaan penyakit paru akibat debu industri. Berbagai tindakan pencegahan perlu dilakukan untuk mencegah timbulnya penyakit atau mengurangi laju penyakit. Perlu diketahui apakah pada suatu industri atau tempat kerja ada zat-zat yang dapat menimbulkan kelainan pada paru. Kadar debu pada tempat kerja diturunkan serendah mungkin dengan memperbaiki teknik pengolahan bahan, misalnya pemakaian air untuk mengurangi debu yang berterbangan. Bila kadar debu tetap tinggi pekerja diharuskan memakai alat pelindung (Yunus, 1997).
Pengawasan terhadap di lingkungan kerja dapat membantu mencegah terjadinya silikosis. Jika debu tidak dapat dikontrol (seperti halnya dalam industri peledakan), maka pekerja harus memakai peralatan yang memberikan udara bersih atau sungkup. Pekerja yang terpapar silika, harus menjalani foto rontgen dada secara rutin. Untuk pekerja peledak pasir setiap 6 bulan dan untuk pekerja lainnya setiap 2-5 tahun, sehingga penyakit ini dapat diketahui secara dini. Jika foto rontgen menunjukkan silikosis, dianjurkan untuk menghindari pemaparan terhadap silika.
2.9 Peran Keluarga Dalam Upaya Pencegahan Penyakit
Dalam usaha pencegahan penyakit akibat kerja atau silikosis ini, suatu keluarga harus berupaya untuk selalu berperilaku hidup bersih dan sehat, seperti : merawat rumah dan menjaga lingkungan sekitar supaya bersih dari kotoran maupun debu.
Untuk penderita yang alergi terhadap debu dan penderita sedang menjalani terapi pengobatan, peran keluarga disini adalah sebagai pengawas obat – obatan dari si penderita. Keluarga juga berperan dalam upaya peningkatan asupan gizi si paenderita, dengan memberikan makanan yang bergizi dan sehat.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja. Dengan demikian penyakit akibat kerja merupakan penyakit yang artificial atau man mad disease.
Penyakit silikosis disebabkan oleh pencemaran debu silika bebas, berupa SiO2, yang terhisap masuk ke dalam paru-paru dan kemudian mengendap. Penyakit ini terjadi karena inhalasi dan retensi debu yang mengandung kristalin silikon dioksida atau silika bebas. Silika adalah unsur utama dari pasir, sehingga pemaparan biasanya terjadi pada buruh tambang logam, pekerja pemotong batu dan granit, pekerja pengecoran logam, pembuat tembikar. Penderita silikosis noduler simpel mengalami iritasi (bronkitis). Silikosis terakselerasi bisa menyebabkan batuk berdahak dan sesak nafas. Jika terpapar oleh organisme penyebab tuberkulosis (Mycobacterium tuberculosis, penderita silikosis mempunyai resiko 3 kali lebih besar untuk menderita tuberculosis). Pemeriksaan yang dilakukan dengan rontgen dada (terlihat gambaran pola nodul dan jaringan parut), tes fungsi paru, tes PPD (untuk TBC). Pengobatan umumnya bersifat simptomatis, yaitu mengurangi gejala. Terapi suportif terdiri dari obat penekan batuk, bronkodilator dan oksigen. Jika terjadi infeksi, bisa diberikan antibiotik. Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan cara kadar debu pada tempat kerja diturunkan serendah mungkin dengan memperbaiki teknik pengolahan bahan, misalnya pemakaian air untuk mengurangi debu yang berterbangan. Bila kadar debu tetap tinggi pekerja diharuskan memakai alat pelindung. Pengawasan terhadap di lingkungan kerja dapat membantu mencegah terjadinya silikosis.
3.2 Saran
Agar kita terhindar dari penyakit silikosis ini, kita hendaknya selalu menjaga kebersihan badan dan lingkungan disekitar kita, baik rumah maupun tempat kerja. Untuk orang yang alergi terhadap debu sebaiknya selalu membawa obat antiseptik dan menggunakan masker bila perlu.
Agar kita terhindar dari penyakit silikosis ini, kita hendaknya selalu menjaga kebersihan badan dan lingkungan disekitar kita, baik rumah maupun tempat kerja. Untuk orang yang alergi terhadap debu sebaiknya selalu membawa obat antiseptik dan menggunakan masker bila perlu.
DAFTAR PUSTAKA
Djojodibroto,Darmanto, Kesehatan kerja di perusahaan, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama , 1999.
Direktorat Bina Kesehatan Kerja Depkes RI. 2007.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar