Kamis, 29 November 2012

FILSAFAT LOGIKA


FILSAFAT

LOGIKA





Disusun oleh :

1.     Muhamad Ari Irawan
2.     Nurhayati








FAKULTAS IlMU KESAHATAN
PRODI KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS RESPATI INDONESIA
JAKARTA 2009 / 2010
FILSAFAT LOGIKA


Pengertian Logika
                               
                Logika dalam bahasa yunani yaitu LOGIKOS, yang berasal dari kata benda LOGOS.
                         
ü  LOGIKOS berarti mengenai sesuatu yang diutarakan, melalui sesuatu pertimbangan akal (pikiran), mengenai kata, mengenai percakapan, atau yang berkenaan dengan bahasa.

ü  LOGOS berarti sesuatu yang diutarakan, suatu pertimbangan akal (pikiran), kata, percakapan atau yang berkenaan dengan bahasa.



Secara Etimologis
               
                LOGIKA berarti sesuatu pertimbangan akal atau pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan lewat bahasa.


Hukum Dasar Logika

  1. Hukum Identitas (Principium Identitatis / Law of Identity)
  2. Hukum Kontradiksi (Principium Contradictionis / Law of Contradiction)
  3. Hukum Tiada Jalan Tengah (Principium Exklusi Tertii / Law of Excluded Middle)
  4. Hukum Cukup Alasan (Principium Rationis Sufficientis / Law of Sufficient Reason)



KEGUNAAN LOGIKA

  1. Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.
  2. Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat dan objektif.
  3. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
  4. Memaksa dan mendorong orang-orang untuk berpikir sendiri dengan mengunakan asas-asas sistematis.
  1. Meningkatkan cinta akn kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpikir, kekeliruan serta kesesatan.
  2. Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
  3. Terhindar dari klenik, guyon-tuhon (bahasa jawa)
  4. Apabila sudah mampu berpikir rasional, kritis, lurus, metodis dan analitis sebagaimana tersebut pada butir pertama maka akan meningkatkan citra diri seseorang.


Logika Sebagai Esensi Dari Filsafat

                Russell mencoba membaginya ke dalam tiga tipe besar yaitu :

v  Tipe pertama disebut sebagai tipe tradisional klasik yang diwakili oleh pemikiran Kant dan Hegel, periode ini menekankan pada kecenderungan untuk mengadopsi pemecahan masalah yang terjadi sekarang dengan metode-metode dan hasil-hasil yang telah dicapai pada masa plato dan lainnya.

v  Tipe kedua adalah Evolusionusme, yang dimulai dari pemikiran Darwin hingga Herbert Spencer.

v  Tipe ketiga adalah yang disebut Logika Atomisme, yabg melihat filsafat melalui metode kritis matematika.
Logika Sebagai Cabang Filsafat

                Dasar penalaran dalam logika ada dua, yakni deduktif dan induktif :

1.     Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif / Logika Deduktif adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif.

Agumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.

Contoh argumen deduktif :

  1. Setiap mamalia punya sebuah jantung.(premis)
  2. Semua kuda adalah mamalia.(premis)
  3. Jadi, setiap kuda punya sebuah jantung.(kesimpulan)


2.     Penalaran Induktif

Penalaran Induktif / Logika Induktif adalah penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.

Contoh argumen induktif :

  1. Kuda Sumba punya sebuah jantung.(khusus)
  2. Kuda Australia punya sebuah jantung.(khusus)
  3. Kuda Amerika punya sebuah jantung.(khusus)
  4. Kuda Inggris punya sebuah jantung.(khusus)
  5. . . . . . . .
  6. Jadi, Setiap kuda punya sebuah jantung.(umum)
Ciri-ciri yang Membedakan Antara Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif

Deduktif :

·         Jika premis benar, maka kesimpulan pasti benar.
·         Semua informasi atau fakta pada kesimpulan sudah ada, sekurangnya secara implisit dalam premis,

Induktif :

·         Jika premis benar, kesimpulan mungkin benar, tapi tak pasti benar.
·         Kesimpulan memuat informasi yang tak ada, bahkan secara implisit dalam premis. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar