Kamis, 29 November 2012

MAKALAH EPIDEMIOLOGI PENYAKIT NON MENULAR “STROKE”


BAB I
PENDAHULUAN

Latar belakang

Sistem saraf merupakan suatu sistem dalam tubuh yang vital. Sistem saraf terdiri atas tiga bagian, yaitu susunan saraf pusat, susunan saraf tepi, dan susunan saraf otonom. Susunan saraf pusat meliputi otak dan sumsum tulangbelakang. Susunan saraf tepi terdiri atas urat saraf yang berasal dari otak dansumsum tulang belakang. Susunan saraf otonom terdiri dari saraf simpatik dansaraf parasimpatik .Fungsi utama sistem saraf adalah untuk mendeteksi, menganalisis, danmentransfer informasi. Innformasi digabungkan oleh sistem sensori dan diintegrasikan oleh otak kemudian digunakan untuk ditransmisikan ke sistemmotorik untuk kontrol pergerakan, fungsi viseral, dan endokrin. Aksi inidikendalikan oleh neuron yang merupakan penghubung antara sistem sensoridan motorik. Susunan saraf pusat manusia mengandung sekitar 100 miliar neuron.Terdapat juga sel-sel glia sebanyak 10-50 kali jumlah tersebut. Neuron padasistem saraf pusat terdapat dalam berbagai bentuk dan ukuran. Meskipun demikian, sebagian besar mempunyai bagian-bagian yang sama dengan neuron motorik spinal yang khas. Sel ini mempunyai lima sampai tujuh tonjolan yang disebut dendrite. Khususnya di korteks serebri dan serebeli, dendrite mempunyai tonjolan-tonjolan bulat kecil yang disebut tonjolan dendrite. Dendrite menerima informasi dari neuron lain menuju badan sel. Badan sel mengandung nukleus.Komponen sel saraf lainnya yaitu axon yang dapat mencapai panjang hingga satu meter yang berfungsi menyalurkan ke otot, kelenjar, dan neuron lain(Ganong 2002).Terhambatnya aliran darah menuju sel neuron dapat mengakibatkan gangguan neurologis. Pemahaman tentang penyebab gangguan neurologimemerlukan pengetahuan mekanisme molekular dan biokimia. Terdapatbeberapa gangguan neurologi antara lain Parkinson, myasthenia gravis, epilepsi, Alzheimer, dementia, hidrosefalus, cedera medula spinalis, Hernia nukleuspulposus dan stroke.Stroke merupakan masalah kesehatan yang sudah lama sekali dikenal didunia kedokteran. Namun demikian, hingga kini, stroke masih menjadi masalah kesehatan yang serius dan belum dapat diturunkan angka kejadiannya secara signifikan. Stoke adalah terminologi klinis untuk gangguan sirkulasi darah nontraumatik yang terjadi secara akut pada suatu fokal area di otak, yang berakibat terjadinya keadaan iskemia dan gangguan fungsi neurologis foka lmaupun global, yang berlangsung lebih dari 24 jam, atau langsung menimbulkankematian (Wajoepramono 2005). Secara tipikal, stroke bermanisfestasi sebagai munculnya defisit neurologis secar tiba-tiba, seperti kelemahan gerakan ataupun kelumpuhan, defisit sensorik atau bisa juga gangguan berbahasa. Stroke secara garis besar terbagi menjadi dua jenis, yaitu stroke iskemikdan stroke hemoragik. Stroke iskemik terjadi karena aterosklerosis yangmenyumbat suatu pembuluh darah ke otak. Sedangkan stroke hemoragik terjadikarena pecahnya pembuluh darah sehingga menghambat aliran darah normaldan darah merembes ke suatu daerah di otak dan merusaknya.


TUJUAN
Agar mahasiswa mengetahui dan memahami masalah stroke dipandang dari segi epidemiologi .















BAB II

Pengertian.
Stroke (bahasa Inggris: stroke, cerebrovascular accident, CVA) adalah suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tiba-tiba terganggu. Dalam jaringan otak, kurangnya aliran darah menyebabkan serangkaian reaksi biokimia, yang dapat merusakkan atau mematikan sel-sel saraf di otak. Kematian jaringan otak dapat menyebabkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan itu. Stroke adalah penyebab kematian yang ketiga di Amerika Serikat dan banyak negara industri di Eropa (Jauch, 2005). Bila dapat diselamatkan, kadang-kadang penderita mengalami kelumpuhan di anggota badannya, hilangnya sebagian ingatan atau kemampuan bicaranya. Beberapa tahun belakangan ini makin populer istilah serangan otak. Istilah ini berpadanan dengan istilah yang sudah dikenal luas, "serangan jantung".
Stroke terjadi karena cabang pembuluh darah terhambat oleh emboli. Emboli bisa berupa kolesterol atau udara.









A.            JENIS/BENTUK  KLINIK

1. Stroke Hemorragi
Stroke hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak. Hampir 70% kasus stroke hemoragik terjadi pada penderita hipertensi.
a. Perdarahan Intra Serebral (PIS), terutama terjadi bila tekanan darah tinggi sekali, sampai otoregulasi otak tidak berfungsi lagi, dan bila pembuluh darahnya rapuh atau ada aneurisma maka pembuluh darah dapat pecah dan terjadi Infark hemorragik.
b. Perdarahan Sub Arachnoid (PSA), yang keluar akibat pecahnya aneurisma atau malformasi arterio vena (MVA), akan segera memenuhi ruang sub arachnoid sehingga menimbulkan iritasi batang otak

2. Stroke Iskemik
Stroke iskemik yaitu tersumbatnya pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti. 80% stroke adalah stroke Iskemik.
       
a. Thrombosis Serebsi (TS).
penyempitan lumen pembuluh darah otak terjadi secara perlahan oleh karena proses arteriosklerosis. Masih bersifat reversibel dan dapat membaik bila tekanan darah cepat naik kembali/membaik (fase penumbra).

b. Emboli Serebri (ES).
penyempitan/penyumbatan pembuluh darah terjadi secara mendadak/akut, dengan sumber utama emboli dari jantung.
c. Serangan Otak Iskemik Sepintas atau Transient Ischemic Attack(SOS/TIA). Sebagai akibat dari terhentinya aliran darah yang menuju ke otak disebabkan sumbatan yang berasal dari emboli dan trombosis serebri.

B. FAKTOR RESIKO
·         Hipertensi. Kenaikan tekanan darah 10 mmHg saja dapat meningkatkan resiko terkena stroke sebanyak 30%. Merupakan faktor yang dapat diintervensi.
·          Arteriosklerosis, hiperlipidemia, merokok, obesitas, diabetes melitus, usia lanjut, penyakit jantung, penyakit pembuluh darah tepi, hematokrit tinggi, dan lain-lain.
·         Obat-obatan yang dapat menimbulkan addiksi (heroin, kokain, amfetamin) dan obat-obatan kontrasepsi, dan obat-obatan hormonal yang lain, terutama pada wanita perokok atau dengan hipertensi.
·         Merokok
·         Diabetes Mellitus
·         Alkohol
·         Diet
·         Tingginya kadar kolesterol
·         Kelainan-kelainan hemoreologi darah, seperti anemia berat, polisitemia, kelainan koagulopati, dan kelainan darah lainnya.
·         Beberapa penyakit infeksi, misalnya lues, rematik (SLE), herpes zooster, juga dapat merupakan faktor resiko walaupun tidak terlalu tinggi frekuensinya.








C.             GEJALA KLINIS
Gejala TS adalah thrombosis serebri, yaitu :
·                   Terjadi pada wkatu istirahat
·   Tidak ada kehilangan kesadaran
·                   Adanya factor factor resiko misalnya arterioklerosis dan hiperlipidemia.
Gejala ES Emboliserebri, yaitu :
·         Terjadi palong sering pada waktu ada atrial fibrilasi
·         Ada kehilangan kesadaran kurang 30 menit.
·         Ada factor factor resiko, seperti penyakit jantung dan aneurisma.
Gejala HS hemorragik Stroke,yaitu :
·         Terjadi pada waktu sedang beraktivitas
·         Ada krhilangan kesadaran lebih 30 menit
·         Ada factor factor resiko, misalnya hipertensi









D. PATOFISIOLOGI
Pada dasarnya stroke terjadi karena terjadinya gangguan suplai oksigen (O2) ke otak, gangguan supplai tersebut dapat terjadi karena terjadinya sumbatan pada arteri maupun arteri pecah. Berikut ini adalah mengapa stroke dapat terjadi:
·         Otak Membutuhkan banyak sekali Oksigen (O2)
·         Berat otak manusia kira-kira 2,5 % dari berat badan namun kebutuhan oksigen otak mencapai 20% dari kebutuhan oksigen tubuh
·         Di Otak hanpir tidak ada cadangan oksigen
·         Bila suplai oksigen keotak terganggu selama 8-10 detik maka terjadi gangguan fungsi otak
·         Bila gangguan tersebut terjadi selama > 6-8 menit terjadi lesi yang ireversible
Hingga saat ini patofisiologi stroke merupakan studi yang sebagian besar didasarkan kepada serangkaian penelitian, terhadap berbagai proses yang saling terkait, meliputi kegagalan energi, hilangnya homeostasis ion sel, asidosis, peningkatan kadar CaHYPERLINK "http://id.wikipedia.org/wiki/Kalsium"2+ sitosolik, eksitotoksisitas, toksisitas dengan radikal bebas, produksi asam arakidonat, sitotoksisitas dengan sitokina, aktivasi sistem komplemen, disrupsi sawar darah otak, aktivasi sel glial dan infiltrasi leukosit
Pusat area otak besar yang terpapar iskemia akan mengalami penurunan aliran darah yang dramatis, menjadi cedera dan memicu jenjang reaksi seperti lintasan eksitotoksisitas yang berujung kepada nekrosis yang menjadi pusat area infark dikelilingi oleh penumbra/zona peri-infarksi. Menurut morfologi, nekrosis merupakan bengkak selular akibat disrupsi inti sel, organel, membran plasma, dan disintegrasi struktur inti dan sitoskeleton.
Di area penumbra, apoptosis neural akan berusaha dihambat oleh kedua mekanisme eksitotoksik dan peradangan, oleh karena sel otak yang masih normal akan menginduksi sistem kekebalan turunan untuk meningkatkan toleransi jaringan otak terhadap kondisi iskemia, agar tetap dapat melakukan aktivitas metabolisme. Protein khas CNS seperti pancortin-2 akan berinteraksi dengan protein modulator aktin, Wiskott-Aldrich syndrome protein verprolin homologous-1 (WAVE-1) dan Bcl-xL akan membentuk kompleks protein mitokondrial untuk proses penghambatan tersebut.
Riset terkini menunjukkan bahwa banyak neuron di area penumbra dapat mengalami apoptosis setelah beberapa jam/hari sebagai bagian dari proses pemulihan jaringan pasca stroke dengan 2 lintasan, yaitu lintasan ekstrinsik dan lintasan intrinsik.
Iskemia tidak hanya mempengaruhi jaringan parenkima otak, namun berdampak pula kepada sistem ekstrakranial. Oleh karena itu, stroke akan menginduksi imunosupresi yang dramatis melalui aktivasi berlebih sistem saraf simpatetik, sehingga memungkinkan terjadinya infeksi bakterial seperti pneumonia.

E.             PENCEGAHAN
  • Untuk mencegah Stroke atau mengurangi faktor risiko dengan menerapkan pola hidup sehat, olahraga teratur, penghindari stress hingga meminum obat atau suplemen untuk menjaga kesehatan pembuluh darah hingga dapat mencegah terjadinya Stroke.
  • Cara yang terbaik untuk mencegah terjadinya stroke adalah dengan mengidentifikasi orang-orang yang berisiko tinggi dan mengendalikan faktor risiko stroke sebanyak mungkin, seperti kebiasaan merokok, hipertensi, dan stenosis di pembuluh karotid,
  • Mengatur pola makan yang sehat dan menghindari makanan yang mengandung kolesterol jahat (LDL), serta olaraga secara teratur. Stenosis merupakan efek vasodilasi endotelium yang umumnya disebabkan oleh turunnya sekresi NO oleh sel endotelial, dapat diredam asam askorbat yang meningkatkan sekresi NO oleh sel endotelial melalui lintasan NO sintase atau siklase guanilat, mereduksi nitrita menjadi NO dan menghambat oksidasi LDL di lintasan aterosklerosis.

Upaya Pengobatan Stroke

Stroke adalah penyakit otak yang paling destruktif dengan konsekuensi berat. Stroke tidak hanya akan menimbulkan kecacatan yang dapat membebani seumur hidup tetapi juga ancaman kematian bagi pasien. Apabila mengalamiserangan stroke, seba iknya segera dilakukan pemeriksaan untuk menentukan  penyebabnya, bekuan darah atau perdarahan yang tidak bisa diatasi dengan obat penghancur bekuan darah. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kelumpuhan dan gejala lainnya dapat dicegah atau dipulihkan jika obat stroke yang berfungsi menghancurkan bekuan darah disuntikkan kurang dari tiga jamsejak serangan (periode emas). Obat yang diberikan biasanya diberikan berdasarkan penyebab stroke, dan akibat yang ditimbulkan oleh stroke tersebut,seperti obat depresi (untuk mengatasi gangguan psikis), dan alat bantu nafas. Antikoagulan (anti penggumpalan) tidak diberikan kepada penderita tekanan darah tinggi dan tidak pernah diberikan kepada penderita dengan perdarahan otak karena akan menambah risiko terjadinya perdarahan ke dalam otak.













Perawatan Pasca Stroke

Sekali terkena serangan stroke, tidak membuat seseorang terbebas dari  stroke. Di samping dampak menimbulkan kecacatan, masih ada kemungkinan dapat terserang kembali di kemudian hari.

Penanganan pasca stroke yang biasa dilakukan adalah:

  1. Rehabilitasi. Penderita memerlukan rehabilitasi serta terapi psikis seperti terapi fisik, terapi okupasi, terapi wicara, dan penyediaan alat bantu di unitortotik prostetik. Juga penanganan psikologis pasien, seperti berbagi rasa,terapi wisata, dan sebagainya. Selain itu, juga dilakukan Community based rehabilitation (rehabilitasi bersumberdaya masyarakat) dengan melakukan penyuluhan dan pelatihan masyarakat di lingkungan pasien agar mampumenolong, setidaknya bersikap tepat terhadap penderita. Hal ini akan meningkatkan pemulihan dan integrasi dengan masyarakat.
  2. Penerapan gaya hidup sehat. Bahaya yang menghantui penderita stroke adalah serangan stroke berulang yang dapat fatal atau kualitas hidup yang lebih buruk dari serangan pertama. Bahkan ada pasien yang mengalami serangan stroke sebanyak 6-7 kali. Hal ini disebabkan pasien tersebut tidak mengendalikan faktor risiko stroke. Penerapan gaya hidup sehat sangat penting bagi mereka yang sudah pernah terkena serangan stroke, agar tidakkembali diserang stroke seperti berhenti merokok, diet rendah lemak atau kolesterol dan tinggi serat, berolahraga teratur 3 kali seminggu (30-45menit), makan secukupnya, dengan memenuhi kebutuhan gizi seimbang,menjaga berat badan jangan sampai kelebihan berat badan, berhenti minumalkohol dan atasi stres.
  3. Selain itu konsumsi bahan-bahan makanan yang dapat mengurangi resikotimbulnya kembali serangan stroke juga sangat diperlukan.







PENANGANAN
·         Penderita stroke akut biasanya diberikan SM-20302, atau microplasmin, oksigen,
·         Dipasang infus untuk memasukkan cairan dan zat makanan,
·         diberikan manitol atau kortikosteroid untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan di dalam otak, akibat infiltrasi sel darah putih.
·          recombinan tissue plasminogen activator (rtPA) atau streptokinase untuk mencegah kelumpuhan dan gejala lainnya yang berfungsi menghancurkan emboli diberikan dalam waktu 3 jam, setelah timbulnya stroke. Trombolisis dengan rtPA terbukti bermanfaat pada manajemen stroke akut, walaupun dapat meningkatkan risiko pendarahan otak, terutama pada area sawar darah otak yang terbuka
·         Beberapa senyawa yang diberikan bersamaan dengan rtPA untuk mengurangi risiko tersebut antara lain batimastat (BB-94) dan marimastat (BB-2516), yang menghambat enzim MMP, senyawa spin trap agent seperti alpha-phenyl-N-t-butylnitrone (PBN) dan disodium- [tert-butylimino)methyl]benzene-1,3-disulfonate N-oxide (NXY-059), dan senyawa anti-ICAM-1.
·         Metode perawatan hemodilusi dengan menggunakan albumin masih kontroversial, namun penelitian oleh The Amsterdam Stroke Study memberikan prognosis berupa penurunan angka kematian dari 27% menjadi 16%, peningkatan kemandirian aktivitas dari 35% menjadi 48%, saat 3 bulan sejak terjadi serangan stroke akut.









BAB III
EPIDEMIOLOGI STROKE
Kasus stroke meningkat di negara maju seperti Amerika dimanakegemukan dan junk food telah mewabah. Berdasarkan data statistik di Amerika,setiap tahun terjadi 750.000 kasus stroke baru di Amerika. Berdasarkan datatersebut menunjukkan bahwa setiap 45 menit, ada satu orang di Amerika yangterkena serangan stroke dan 4 dari 5 keluarga di Amerika terkena stroke.Menurut Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki), terdapat kecenderunganmeningkatnya jumlah penyandang stroke di Indonesia dalam dasawarsa terakhir.Kecenderungannya menyerang generasi muda yang masih produktif. Hal iniakan berdampak terhadap menurunnya tingkat produktifitas serta dapatmengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga.Tidak dapat dipungkiri bahwa peningkatan jumlah penderita stroke diIndonesia identik dengan wabah kegemukan akibat pola makan tinggi lemak ataukolesterol yang melanda di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Di Indonesia,stroke merupakan penyakit nomor tiga yang mematikan setelah jantung dankanker. B
ahkan, menurut survei tahun 2004, stroke merupakan pembunuh no.1di RS Pemerintah di seluruh penjuru Indonesia. Kejadian stroke di Indonesia punselalu meningkat dari tahun ke tahun. Sebanyak 33 % pasien strokemembutuhkan bantuan orang lain untuk aktivitas pribadi, 20 % membutuhkanbantuan orang lain untuk dapat berjalan kaki, dan 75 % kehilangan pekerjaan.Selain itu, stroke merupakan penyebab dementia (kepikunan) no. 2.Menurut data dasar rumah sakit di Indonesia, seperti diungkapkanYayasan Stroke Indonesia, angka kejadian stroke mencapai 63,52 per 100.000pada kelompok usia 65 tahun ke atas. Secara kasar, dapat dikatakan, setiap hariterdapat dua orang Indonesia terkena stroke

Anggota keluarga mungkin memiliki kecenderungan genetik untuk stroke atau berbagi gaya hidup yang memberikan kontribusi untuk stroke. Tingginya tingkat faktor Von Willebrand lebih umum di antara orang-orang yang memiliki stroke iskemik untuk pertama kalinya. Hasil penelitian ini menemukan bahwa faktor genetik hanya signifikan adalah tipe darah seseorang. Setelah mengalami stroke di masa lalu sangat meningkatkan risiko seseorang stroke di masa depan.
Stroke tak lagi hanya menyerang kelompok lansia, namum kini cenderung menyerang generasi muda yang masih produktif. Stroke juga tak lagi menjadi milik warga kota yang berkecukupan , namun juga dialami oleh warga pedesaan yang hidup dengan serba keterbatasan.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Stroke merupakan penyakit yang menyerang sistem saraf manusia, yang dapat berakibat pada kelumpuhan sistem-sistem lainnya. Secara umum patologi stroke berlangsung secara progresif dan bertahap, mulai dari gejala stroke ringan  hingga dapat menyebabkan kematian. Secara garis besar, stroke dibagi menjadistroke iskemik (karena penyumbatan pembuluh darah) dan stroke hemoragik (karena pecahnya pembuluh darah) yang memiliki gejala bervariasi sesuai daerah yang terserang.Stroke memiliki beberapa faktor resiko yang dapat mendukung perkembangan stroke yang terdiri dari dua jenis faktor, yaitu faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi (usia, jenis kelamin, herediter, dan ras) dan yang dapat dimodifikasi (berbagai penyakit degeneratif dan gaya hidup). Pencegahan penyakit stroke dapat dilakukan dengan meminimalisir faktor resiko yang dapat dimodifikasi tersebut, seperti mengatur pola hidup dan mengkonsumsi makanan yang disesuaikan dengan faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi.

Saran

Gejala stroke umumnya sulit untuk dibedakan dengan gejala penyakit lainnya apabila masih belum mencapai stadium lanjut. Oleh karena itu pencegahan primer sangat disarankan karena setelah mengalami stroke, seseorang sulit untuk dapat pulih total, apalagi pada usia lanjut. Salah satu cara pencegahan primer yang paling disarankan yaitu konsumsi buah-buahan, sayuran, dan produk susu rendah lemak serta mengurangi konsumsi lemak jenuh dan beraktivitas fisik secara rutin






DAFTAR PUSTAKA
gejala stroke http://www.metris-community.com/gejala-dan-penyebab-stroke/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar